Di Sumenep, keluarga Koe mulai membangun kehidupan yang lebih stabil. Mereka menjadi bagian dari komunitas Tionghoa Peranakan, yaitu kelompok yang memadukan unsur budaya Tionghoa dengan adat lokal Madura dan Jawa. Proses ini berlangsung secara alami melalui interaksi sosial, ekonomi, dan perkawinan.
Sumenep bukan sekadar tempat tinggal, melainkan titik pemantapan sejarah keluarga di Nusantara. Di kota inilah identitas keluarga Koe mulai berakar kuat. Bahasa lokal digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun nilai keluarga dan penghormatan terhadap leluhur tetap dijaga.
Secara ekonomi, keluarga Koe hidup dalam lingkungan yang relatif stabil. Mereka berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, menjalin hubungan sosial yang harmonis, dan menanamkan nilai kerja keras kepada generasi berikutnya.
Sumenep menjadi simbol fase “berhenti sejenak” dalam perjalanan panjang keluarga—bukan akhir, melainkan landasan untuk langkah selanjutnya.