Hijrah ini bukan perpindahan individu, melainkan perpindahan keluarga secara utuh. Lumajang, dengan karakter agraris dan peluang ekonomi baru, dipandang sebagai tempat yang menjanjikan bagi generasi berikutnya.
Kakek dikenang sebagai tokoh transisi, sosok yang menjembatani akar leluhur di Madura dengan kehidupan baru di Jawa Timur pedalaman. Ia membawa serta nilai-nilai keluarga, semangat kerja keras, dan tanggung jawab sebagai penerus marga Koe.
Di Lumajang, Sang Kakek mulai membangun kehidupan baru yang lebih menetap. Anak-anak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang berbeda, namun tetap berada dalam ikatan keluarga yang kuat.
Bab ini menegaskan bahwa hijrah ke Lumajang bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan peristiwa sejarah keluarga yang membentuk identitas generasi kini.