Dua kota yang memiliki peran sentral dalam migrasi ini adalah Quanzhou dan Zhangzhou. Quanzhou pernah dikenal sebagai salah satu pelabuhan terbesar di dunia, bahkan pada masa tertentu melampaui pelabuhan-pelabuhan Eropa dalam aktivitas perdagangan internasional. Zhangzhou, yang terletak tidak jauh dari Quanzhou, menjadi daerah hinterland yang menyuplai tenaga, barang, dan keluarga-keluarga perantau.
Leluhur awal keluarga Koe berasal dari lingkungan sosial ini. Walaupun nama pribadi leluhur tersebut tidak lagi tercatat dalam ingatan keluarga, posisinya sebagai perantau generasi awal sangat menentukan arah sejarah keluarga. Ia berasal dari komunitas bermarga 郭 yang hidup dalam budaya Hokkien, terbiasa dengan perdagangan, dan memiliki jaringan sosial antarpelabuhan.
Keputusan untuk meninggalkan tanah leluhur bukanlah keputusan ringan. Dalam tradisi Tionghoa, kampung halaman memiliki makna spiritual dan emosional yang mendalam. Namun, merantau ke Nanyang dipandang sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarga—sebuah pengorbanan demi kelangsungan generasi berikutnya.
Perjalanan laut dari Fujian ke Asia Tenggara penuh risiko: badai, penyakit, dan ketidakpastian nasib. Namun, keberanian dan ketekunan menjadi modal utama. Leluhur keluarga Koe mengikuti jalur pelayaran tradisional menuju kepulauan Nusantara, kemungkinan besar singgah di beberapa pelabuhan sebelum akhirnya menetap.
Dalam fase awal perantauan, identitas sebagai orang Tionghoa masih sangat kuat. Bahasa, adat, dan nilai leluhur tetap dijaga. Namun, interaksi dengan masyarakat lokal secara perlahan membentuk sikap adaptif yang kelak menjadi ciri khas keluarga Koe.
Bab ini menegaskan bahwa leluhur awal keluarga Koe adalah bagian dari arus sejarah besar, bukan individu terpisah. Ia membawa warisan marga 郭 dari Fujian ke Nusantara, meletakkan dasar bagi kehidupan keluarga di tanah baru.